Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Tim Pencak Silat Indonesia Tampil Memukau di Festival Janadriyah, Arab Saudi

25

Penampilan Tim Pencak Silat Indonesia mencuri perhatian penonton di Festival Nasional Warisan Budaya (Janadriyah) ke-33 yang diselenggarakan di Kota Riyadh, Arab Saudi pada 20 – 27 Desember 2018. Mereka melakukan atraksi silat beregu yang merupakan gabungan jurus-jurus silat dari empat perguruan silat di Indonesia yaitu Persaudaraan Setia Hati Teratai, Persinas Asad, Tapak Suci Putra Muhamammadiyah, dan Perisai Diri. Mereka adalah ; Ismail (SMAN 64 Jakarta), Gema Nur Arifin (SMAS PGRI 4 Jakarta), Hanif Fajri Vernanda Putra (SMAN 98 Jakarta), Azharien Geofani Nugroho (SMAN 2 Ngawi), Kelvin Farid Fadillah (SMAN 1 Karanganyar), Akmal Lutfi Muzzaki (SMAN 4 Bandung, Yazid Hanif Kurniawan (SMA Muhammadiyah 4 Depok), Naufal Adithya Rahman (SMAN 1 Sewon), Robby Firdauzy Alfenjy (SMAS Muhammadiyah 2 Balikpapan), dan Ahmad Maulana Guntur Syaifullah (SMAN 3 Samarinda).

 

Penampilan para juara O2SN ini mengundang decak kagum warga yang dipimpin oleh Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud itu. Tak sedikit warga Arab yang meniru gaya silat mereka setiap bertemu tim Indonesia, bahkan ada yang ingin diajarkan khusus ilmu bela diri asli Indonesia ini. Kamis (27/12), kedatangan Tim Pencak Silat Indonesia disambut hangat oleh Kasi Kepribadian Alex Firngadi M.Si bersama Kasi Peserta Didik Asep Sukmayadi M.Si di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang Banten. "Kita sukses membawa misi budaya ini di tingkat dunia. Khususnya Arab Saudi, mengaku kagum dengan apa yang sudah kita tampilkan. Berharap sepulang dari sini mereka tetap terus berlatih, dan jadikan ini pengalaman untuk mereka meraih prestasi pada ajang pencak silat lainnya," Jelas Alex.

 

Indonesia menjadi tamu kehormatan (Guest of Honour) pada Festival Janadriyah ke-33 yang merupakan salah satu perwujudan MoU Bidang Kebudayaan yang disepakati pada saat kunjungan kenegaraan Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud ke Indonesia pada tahun 2017. Salah satu pertimbangannya adalah karena hubungan bilateral kedua negara yang historis dan semakin erat dan juga karena Indonesia dipandang sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.

 

Festival Janadriyah merupakan pameran terbesar dan bergengsi di bidang sejarah dan kebudayaan Timur Tengah yang dilaksanakan sejak tahun 1985. Festival ini setiap tahunnya dibuka dan diresmikan langsung oleh Raja Arab Saudi dengan jumlah pengunjung rata-rata sebanyak 4 juta bahkan pernah mencapai 6,4 juta. Selain menampilkan pameran kekayaan sejarah dan budaya, Festival Janadriyah juga menampilkan produk-produk dan komunitas industri, baik makanan, barang-barang jadi, industri pertahanan, dll.

 

Kasubdit Peserta Didik, Dr. Juandanilsyah yang ikut mendampingi peserta ke Arab Saudi mengatakan, para siswa sudah menampilkan performa terbaik mereka. "Apa yang mereka tampilkan sangat luar biasa, meski ini bukan kompetisi tapi penampilan mereka sudah layaknya seperti kompetisi dan kita sangat mengapresiasi itu. Mereka berhasil membuat penonton terkesima dan menyukai budaya silat Indonesia. Ke depan kita akan terus membina bibit-bibit atlet pencak silat dari ajang olahraga pelajar seperti O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional) untuk bisa mewakili Indonesia." Jelas Juanda

Fahmi Wardi dari IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) mengatakan, Indonesia akan mengikuti kejuaran pencak silat tingkat dunia tahun mendatang di Arab Saudi, diharapkan mereka dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini. "Mereka adalah kader-kader muda harapan bangsa yang harus mampu bersaing ketat di tingkat dunia, maka harus rajin berlatih jika ingin menjadi atlet nasional. Pencak Silat masih menduduki peringkat atas dunia dan kita harapkan akan ada bibit-bibit pencak silat seperti mereka yang mampu mempertahankan peringkat ini," harap Fahmi.

 

Salah satu Pelatih Silat Asean Games, Eko Wahyudi yang ikut melatih tim pencak silat di Janadriyah mengaku puas dengan penampilan anak didiknya. "Mereka  tampil selama lima hari dan setiap harinya dapat sambutan positif. Setiap dari mereka masing-masing mempunyai cirikhas dari perguruan mereka. Disitu kita gali keberagaman jurus silatnya dan dikolaborasikan menjadi sebuah atraksi silat yang sangat apik dan luar biasa. Saya pun melatih mereka layaknya bertanding dan selalu evaluasi setiap selesai latihan. Saya lihat talent dan teknik dasar mereka sudah sangat bagus, tinggal mereka mengasah lagi, sering bertemu para juara untuk menggali potensi mereka. Jangan cepat puas dengan ikut festival ini, tapi harus punya ambisi juara dalam setiap kesempatan kompetisi. Termasuk pada festival ini, bisa menjadi juara dihati warga Arab sehingga mereka (baca;warga Arab) menyukai silat dan ingin mengenal lebih jauh tentang silat.

 

"Awalnya orang Arab bingung apa yang kita tampilkan, lalu pas tampil kedua, ketiga dan seterusnya makin ramai yang nonton dan kita juga dapat tepuk tangan gemuruh. Ini pertama kalinya buat kita semua dan sudah sangat bangga bisa terpilih bisa ikut festival ini. Kami jadikan pengalaman ini sebagai pembangkit semangat untuk bisa terus berlatih dan fokus untuk kompetisi dan ajang-ajang pencak silat lainnya. Hampir semua diantara kami sangat ingin menjadi atlet pencak silat nasional dan mengharumkan Indonesia." Ujar salah satu peserta, Azharien Geofani Nugroho, peraih medali emas O2SN 2018.

 

Teks & Foto : Tim Publikasi Dit.PSMA