Bahan materi Webminar Episode 5 - PHBS dan Episode 6 - PLS dapat diunduh di menu Dokumentasi/Arsip --> Bahan Materi

Kembali, Siswa Indonesia Raih Emas! Kado Manis Jelang HUT RI ke-73

31 Juli 2018
Dilihat 328

Setelah beberapa pekan lalu siswa Indonesia berhasil mempersembahkan emas dalam olimpiade matematika, dan menghantarkan posisi Indonesia pada peringkat 10 dunia, kini giliran tim olimpiade kimia dan fisika. Tim kimia berhasil memboyong satu emas, satu perak, dan dua perunggu. Seolah tak mau kalah,  tim olimpiade fisika Indonesia pun turut persembahkan satu emas, satu perak, dan tiga perunggu. Prestasi ini menambah deretan raihan emas Indonesia dalam kancah olimpiade sains Internasional sepanjang tahun 2018. Senin (30/07), kedatangan kedua tim yang tiba bersamaan di Bandara Soekarno Hatta, disambut hangat oleh Direktur Pembinaan SMA, Purwadi Sutanto beserta jajarannya.

Tim Olimpiade Kimia Indonesia yang berhasil raih medali adalah Ong, Christoper Ivan Wijaya (SMA Kristen YSKI, Semarang - emas), Abdullah Muqaddam, (MAN Insan Cendekia Serpong, Banten – Perak), Rizki Kurniawan (SMAN 1 Kota Metro, Lampung – perunggu), dan Muhammad Syaiful Islam (SMA Cinderamata Kota Bekasi, Jawa Barat – perunggu). Perolehan empat medali ini digapai dengan tidak mudah dalam kompetisiInternational Chemistry Olimpiad(IChO) ke-50 di Slovakia dan Republik Ceko, 19 Juli - 29 Juli 2018. Kompetisi ini diikuti oleh 80 negara dari seluruh dunia.

Dosen Pendamping bidang Kimia, Deana Wahyuningrum mengisyaratkan usaha keras yang dilakukan para peserta sangat patut untuk diapresiasi. Dalam kompetisi ini, setiap siswa diuji kemampuan dalam bidang teori dan praktikum. “Pada event IChO ke-50 ini memang sangat istimewa, sehingga tipe soalnya juga sangat menarik dan sulit. Praktikumnya juga sangat menantang, banyak peserta yang nilainya anjlok di praktikum, tapi tidak pada Ivan. Dia sangat beruntung raih nilai tinggi di praktikum. Menurut saya inilah hasil sangat optimal yang diberikan anak-anak kita. Dari 35 siswa peraih emas IChO, Ivan berada di peringkat ke-27, jadi sudah sangat bagus. Ke depan, tidak cuma IQ tapi juga EQ penting untuk diterapkan selama proses pembinaan untuk menunjang mentalitas peserta saat bertanding,” terang Deana.

“Puji Tuhan, saya senang sekali ketika pengumuman medali perak nama saya tidak dipanggil, karena saya yakin dapat emas,” kenang Ivan yang sudah mengetahui peluangnya meraih emas, karena nilai praktikumnya tertinggi di antara tiga rekannya. “Soalnya sulit sekali, sehingga nilai teori saya tidak maksimal, beruntung poin saya penuh untuk praktikum,” tambah Ivan yang mengaku melakukan persiapan selama 2 tahun dengan berlatih maksimal sebelum terbang ke Slovakia.

Tidak hanya Kimia, Tim Olimpiade Fisika menambah deretan raihan emas beruntun (baca ; matematika, kimia) untuk Indonesia dalam kancah olimpiade sains internasional 2018. Siswa Indonesia sukses membawa pulang satu medali emas, satu perak, dan tiga perunggu dalam kompetisi International Physics Olympiad (IPhO) ke-49 yang digelar di Lisbon, Portugal pada 21-29 Juli 2018. Olimpiade Fisika Internasional ini diikuti oleh 90 negara dan 396 siswa. 

Medali emas untuk Indonesia dipersembahkan oleh Johanes Suhardjo (SMAK Frateran Surabaya). Medali perak diraih oleh Jason Jovi Brata (SMAK 1 BPK Penabur Jakarta), dan tiga medali perunggu dikumpulkan oleh Ahmad Aufar Thoriq (SMA Semesta BBS Semarang), Bryant Juspi (SMA Darma Yudha Pekanbaru), serta Raditya Adhidarma Nugraha (SMAN 1 Yogyakarta).

Leader team Indonesia, Syamsu Rosid mengaku bangga dengan hasil yang dicapai anak didiknya. “Takjub dengan hasil yang diberikan mereka pada IPhO kali ini, meski sebelum berangkat saya lihat daya juang mereka seperti melemah, tapi tidak demikian ketika mereka menjalankan tes. Mereka sangat total dan berusaha keras raih nilai sebaik mungkin,” ceritanya. Syamsu menambahkan, tidak sedikit siswa yang dibuat “KO” lebih dulu oleh soal-soal fisika tahun ini, terutama soal fisika eksperimen. Tes eksperimen kali ini tentang “kertas listrik sebagai transistor JFET” dan “sifat material benang polimer yang non-linier”. Adapun soal tes teori terdiri dari topik Mekanika, Elektrodinamika, Termodinamika, dan Fisika Modern. 

Banyak peserta yang mengaku tidak selesai mengerjakan soal tes eksperimen dan membiarkan kertas jawabannya kosong bersih. Dewi fortuna justru berpihak pada Johanes yang meraih poin eksperimen 10,45 dan 25,6 poin teori dari poin eksperimen tertinggi 16,9 dan teori 29,9 yang diraih oleh pelajar asal China. “Saya sangat senang bisa dapat emas, semoga bisa buat bangga Indonesia, sekolah, dan kedua orang tua saya,” ungkap Johanes saat ditanya perasaannya.

 

Kado Manis Jelang HUT RI ke-73

Didampingi Kasubdit Peserta Didik Suharlan dan Kepala Biro Komunikasi Layanan Masyarakat (BKLM) Ari Santoso, Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Purwadi Sutanto menyambut antusias kedatangan pahlawan-pahlawan sains Indonesia di terminal kedatangan internasional 3 ultimate dan 2D, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Rona bahagia terpancar dari wajahnya dan genggaman erat ucapan selamat yang diberikan kepada para siswa, tanda bangga akan prestasi luar biasa yang ditorehkan anak bangsa.

"Kemenangan ini adalah bukti bahwa pelajar-pelajar Indonesia potensial dan tidak kalah dengan pelajar lain dari negara-negara maju dunia. Ini adalah prestasi luar biasa yang dipertontonkan anak-anak kita, membanggakan kita semua, membanggakan Indonesia, dan patut kita syukuri," kata Purwadi pada kesempatan tersebut.

Sebagai generasi bangsa di era milineal, lanjut Purwadi, mereka perlu kita bimbing dan arahkan sebagai calon-calon pemimpin masa depan. “Harus kita pupuk dan arahkan prestasi-prestasi internasional seperti ini. Ini adalah tahun emas bagi Indonesia, setelah sebelumnya tim matematika juga mendulang emas,  ini sangat luar biasa, dan semoga kembali terulang pada bidang-bidang sains lainnya.” Harap Pak Direktur.

Kasubdit Peserta Didik, Suharlan menyampaikan, prestasi menakjubkan  ini menjadi hadiah manis jelang ulang tahun kemerdekaan Indonesia. "Ini adalah kado manis HUT RI ke-73 dan sudah ada tiga tim olimpiade yang bawa pulang emas. Sungguh luar biasa dan membanggakan kita semua, sebagai salah satu upaya diplomasi kebudayaan di dunia internasional bahwa Indonesia mampu berbicara di tingkat dunia dalam bidang pendidikan.Prestasi ini harus menjadi tradisi sains yang kita kembangkan terus menerus sekaligus memupuk semangat nasionalisme kebangsaan kita di even internasional.” Jelas Suharlan.

Suharlan yang sudah sejak tahun 2005 malang melintang dalam proses pelaksanaan olimpiade sains ini, sangat mengapresiasi upaya pelajar Indonesia dalam mengharumkan nama Indonesia. “Semangat nasionalisme dan kebangsaan harus terus kita pelihara dengan baik dalam event apapun. Target prestasi harus diraih dengan semangat, kerja keras, tidak putus asa dan percaya diri menghadapi lawan-lawan tangguh. Semoga kedepan prestasi yang kita raih ini tetap dipertahankan dengan evaluasi dini terkait kekurangan-kekurangan yg ada,” tutup Suharlan.

 

Teks : Rinda/Iman

Foto : Panji/ Eddy