Pedoman Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2020 dapat diunduh Klik Disini

Keajaiban Sebuah Sekolah di Tengah Hutan

20 Oktober 2015
Dilihat 290

Sepanjang perjalanan penuh tikungan dan melewati banyak pepohonan, yang bisa dikatakan hutan. Bukan hutan belantara seperti dalam film-film horor, melainkan hutan yang masih terdapat pemukiman penduduk. Dari kejauhan tampak tiang bendera merah putih berkibar melambai. Membuat penasaran bagi yang melewati jalanan hutan tersebut, apakah gerangan yang ada di tengah hutan tersebut ? Sebuah bangunankah? Untuk menuju ke sana harus melewati jalan setapak yang berliku, pepohonan yang rindang dan aliran sungai jernih.

 

Kurang lebih 100 meter dari jalan raya, menuju arah sang merah putih berkibar tampak terlihat dua bangunan yang mungkin bisa dibilang sebuah gubuk atau “bebak”,  sebutan yang diberikan oleh masyarakat Nusa Tenggara. Dinding bangunan terbuat dari bambu, atap dari daun dan masih berlantaikan tanah. Tidak hanya gubuk saja yang terlihat, ada anak-anak remaja yang sedang duduk, mendengarkan guru yang mengajarkan mata pelajaran.

 

Bangunan tersebut tak lain adalah sebuah sekolah SMA, sekolah yang hanya mempunyai dua bangunan. Kondisi sebuah sekolah yang terlihat secara fisik tampak menyedihkan. Sekolah yang jauh dari kata sempurna untuk sebuah SMA. Perbandingan yang bisa dikatakan 180 derajat dengan sekolah-sekolah yang ada di kota besar. Di sisi lain, di samping menilai bangunan sekolah, akan terlihat betapa tenang, khusyuk para siswa mendengarkan ajaran guru. Motivasi siswa yang tinggi dalam belajar membuat sang guru juga bersemangat dalam mengajar.

 

Bangunan tersebut yang tak lain adalah salah satu sekolah swasta yang ada di Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kecamatan Mollo Utara. Sekolah yang terletak di tengah hutan itu adalah Sekolah Kristen Kapan. Sekolah ini pada tahun 2015 mendapatkan bantuan sosial RKB (Ruang Kelas Baru) dari pemerintah. Sekolah ini sangat berhak mendapatkan bantuan tersebut karena kondisi sekolah yang masih perlu adanya pembangunan ruang kelas baru untuk menampung para siswa-siswi. Pada tahun ajaran 2014/2015 ini banyak siswa yang mempunyai minat bersekolah sehingga daya tampung sekolah tidak mencukupi. Sekolah yang seharusnya terbagi dalam lima rombel, karena kondisi ruangan yang tidak mencukupi dibuat menjadi empat rombel. Dengan masing-masing rombel terdiri dari 41-42 siswa.

 

Sekolah yang berdiri pada tahun 1986 sekarang dikepalai oleh seseorang yang berjasa besar bagi Kecamatan Mollo Utara yakni Yerviana Baimou. Kepala sekolah wanita yang masih muda ini mempunyai semangat tinggi untuk membangun sekolahnya. Kepala sekolah generasi ketiga ini selama bertahun-tahun terus giat membangun sekolahnya, secara fisik maupun pendidikan peserta didiknya.

Yerviana Baimou, Kepala Sekolah SMA Kristen Kapan

Sekolah yang hanya mempunyai lima rombel (rombongan belajar) pada tahun 2011 dan masih berlantai tanah sampai pada tahun 2012 ini terus berusaha untuk memajukan pembangunan. Dari yang semula proses belajar 2 shift sekarang sudah menjadi 1 shift. Menilik ke belakang pada tahun 2008 sekolah ini masih mempunyai dua ruang kelas yang masih berlantai tanah. Bermula dari perhatian pemerintah setempat, sekolah mendapatkan bantuan PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat). Selanjutnya pada tahun 2013 mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat berupa satu ruang perpustakaan, lapangan bola voli dan tembok penahan. Pada tahun 2014 sekolah ini mendapatkan bantuan sosial dari Direktorat Pembinaan SMA berupa RKB (Ruang Kelas Baru) dengan pembangunan gapura dan ruang kelas baru. Di tahun 2015 sekolah ini mendapatkan lagi bantuan sosial dari Direktorat Pembinaan SMA berupa RKB.

Proses dalam mendapatkan berbagai bantuan dari pemerintah ini tidaklah mudah. Tidak seperti membalikkan telapak tangan saja. Semua ini hasil kerja dan kegigihan dari sang kepala sekolah dan doa dari para siswa. Kepala sekolah yang giat dalam mengikuti sosialisasi, rapat, workshop tersebut mencari informasi mengenai bantuan. Hingga akhirnya setelah sekian lama, doa dari kepala sekolah dan para siswa terjawab. Bantuan mulai bergantian mengalir.

 

Sekolah yang memiliki lahan seluas dua hektar ini sekarang sudah berdiri cantik di depan mata. Sembilan ruangan baru telah berdiri kokoh. Pembangunan ruang kelas secara perlahan-lahan mulai menghiasi sekolah ini. Satu persatu ruang berdiri dengan dinding bata. Sebuah taman kecil menghiasi bagian depan sekolah. Di belakang sekolah masih nampak hutan, tanah kosong yang dimanfaatkan siswa untuk mulok (muatan lokal), ditanami berbagai tumbuhan yang cocok untuk daerah pegunungan, yakni ubi. Dari hasil bertanam tersebut dimanfaatkan sebagai prakarya siswa dan siswinya.

Prestasi  yang diperoleh siswa -siswinya ini, sudah mewakili sampai di tingkat kabupaten. Tahun ajaran 2015/2016 ini ada sekitar 200 siswa mengeyam pendidikan di sekolah ini. Kepala Sekolah yang telah banyak berjuang itu pun berpesan bagi para siswanya agar selalu menanamkan pola pikir yang bermutu.