Pedoman Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2020 dapat diunduh Klik Disini

Theodorus Wijaya – Calvin Aryaputra, SMA Khatolik St. Petrus: Stockey Memudahkan Siswa Belajar Pasar Modal

16 September 2017
Dilihat 291

Kreativitas tidak membatasi-batasi orang untuk berkarya. Siapa saja bisa dan boleh, jika memang punya semangat untuk berinovasi. Tengok saja yang dilakukan Theodorus Wijaya dan Calvin Aryaputra, finalis FIKSI asal Kalimantan Barat ini. Meskipun di sekolah mereka mengambil jurusan ilmu pasti, IPA, namun tidak menghalangi mereka untuk berkarya di bidang – yang kata orang – hanya untuk anak-anak IPS. Sungguh anggapan yang salah. Sekali lagi, kreativitas itu tidak berbatas, terbatas, dan dibatas-batasi. Bebas....untuk semua yang memang ingin maju.

Nah, sekaligus ingin memperkenalkan budaya lokal, Kalimantan Barat, duet calon pengusaha  muda masa depan Indonesia ini membawa produk kreatif mereka yang bernama “stockey” di katagori bidang lainnya. Ini adalah semacam permainan pasar modal yang mengangkat sisi budaya lokal Kalimantan Barat.

Terus, bagaimana bisa anak-anak IPA seperti mereka bisa larut dalam bidang ekonomi kreatif seperti ini dan bahkan bisa tembus sampai final di Bandung?

“Waktu kelas 10,  kami semuanya menerima pelajaran IPS.  Kami juga menerima pelajaran ekonomi. Di kelas 10 ini juga kami mendapat pelajaran tentang pasar modal yang kebanyakan teori. Karena itu, kebanyakan murid merasa bosan dan malas-malasan. Jadi, kami ingin membuat praktiknya melalaui permainan atau game dari pasar modal itu sendiri agar lebih mengerti selain dari teori yang sudah dipelajari,” jelas Calvin.

“Produk kami juga memuat materi pasar modal sehingga bisa membantu siswa dalam memahami pasar modal. Selain itu, produk kami juga bisa memberikan pengalaman belajar sambil bermain,” sambung Theodorus.

Dari ide tersebut, mereka lalu berkonsultasi dengan para guru dan mendapat masukan-masukan. Setelah yakin, mereka kemudian juga membuat desain agar produk mereka – meskipun sederhana – tetap menarik dan menyita perhatian calon konsumen.

Dari ide inilah kemudian semua berlanjut hingga akhirnya bisa berpartisipasi di FIKSI 2017. Karena awalnya memang untuk mempelajari pasar modal, mereka sekaligus juga membuat business plan produk.

“Business plannya juga untuk dikirim ke Fiksi ini,”  kata Calvin. “Kami tahu FIKSI juga dari guru. Dari pertama, tahun lalu, kami memang sudah diajak oleh guru kami. Waktu itu kami ikut bidang boga. Judul dari usaha kami itu Keripik Nanas ....”

Sementara, karena kesibukan sekolah, produk keripik nanas itu belum dilanjutkan. “Kami masih terkendala waktu. Pulang sekolah aja sudah sampai jam 5 sore, belum lagi les. Mungkin setelah lulus kuliah, kami bisa melanjutkan usaha ini lagi.”

Lalu bagaimana dengan stockey?

“Kami tidak memiliki target. Tentu ada sedikit rasa kecewa jika tidak mendapat medali, tapi gak apa-apalah. Yang penting dapat pengalaman yang sangat berharga.

Ke depan, Theodorus dan Caslvin  berencana bekerja sama dengan sekolah-sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan harapan “game pasar modal” yang mereka tawarkan bisa digunakan ke sekolah-sekolah yang membutuhkan.

 

Teks : Iman/Tania. Foto : Hono